2 Pelatih Bulutangkis Indonesia yang Melatih di Luar Negeri

Hendrawan

Mantan pemain pelatnas bulutangkis Indonesia yang masih kakak ipar dari Hendra Setiawan lahir di Malang pada tanggal 27 Juni 1972. Puncak prestasi yang ia ukir adalah medali emas pada kejuaran dunia 2001 dan medali perak pada Olympiade Sydney tahun 2000. Ia resmi mengundurkan diri dari pelatnas pada tahun 2003 dengan beralih menjadi pelatih. Karier pelatihnya makin mentereng ketika ia memutuskan untuk melatih Lee Chong Wei yang pada saat ini terkena skorsing bertanding dari arena bulutangkis internasional karena tersangkut kasus doping. Dengan tangan dinginnya, Hendrawan berhasil mengangkat mental bertanding dan memoles skill Lee Cong Wei yang pada saat itu drop ke titik terendang sepanjang karier bulutangkisnya. Perlahan Lee Chong Wei yang terlempar dari peringkat 50 besar dunia berhasil merangsek kembali ke jajaran elit bulutangkis dunia, bahkan berhasil merebut peringkat pertama BWF.

 

Mulyo Handoyo

Mantan pelatih yang berhasil menghantarkan Taufik Hidayat meraih gelar juara bergengsi dunia ini seakan tidak dilirik oleh pelatnas PBSI, padahal ia berhasil mengangkat Taufik yang pada saat itu terpuruk secara mental dan prestasi menjadi Taufik yang baru yang berhasil meraih medali emas Olympiade Athena 2004, bahkan Taufik pada saat itu hampir beralih menjadi warga negara Singapura karena merasa tidak diperhatikan oleh pengurus pelatnas PBSI pada saat itu. Setelah Taufik Hidayat pensiun dari atlet bulutangkis, Mulyo Handoyo pun kini melatih di pelatnas India. Tangan dinginnya berhasil memoles atlet India yang sebetulnya mempunya skill rata-rata menjadi atlet bulutangkis yang luar biasa stamina dan pola mainnya. Hal ini terbukti dengan munculnya pemain bulutangkis India yang mencengangkan dunia: Kidambi dan Prannoy.  Dengan tangan dingin Mulyo Handoyo, keduanya mampu memperlihatkan pola permainan bulutangkis modern yang bertumpu pada daya tahan, konsistensi, kombinasi menyerang dan bertahan secara sempurna.

Kunci yang terpenting menurut Mulyo Handoyo adalah komitmen dan kerja sama. Jika tak ada dua hal tersebut, maka sangat amat mustahil untuk dapat melangkah maju ke depan

“Intinya, saya bekerja sama dengan pemain. Kami sepakat untuk berkomitmen. Tanpa komitmen dan kerja sama yang baik, tentu sulit bagi kami untuk menorehkan hasil positif,”

“Para pemain punya kemauan yang sangat besar dan mereka siap bekerja keras. Semua elemen juga saling mendukung, mulai dari organisasinya dan lain-lain. Pembibitan pemain di India sangat banyak. Selain itu, dukungan dari para orangtua juga besar,” tutur Mulyo.

Hal positif dari fenomena ini adalah makin memasyarakatnya olahraga tepok bulu ini secara internasional. Yang diuntungkan juga industri apparel bulutangkis seperti Yonex, Li-Ning dengan raket yonex nya dan sepatu li ning nya. (kambing guling bandung)

 

 

Artikel Terkait 2 Pelatih Bulutangkis Indonesia yang Melatih di Luar Negeri